BERITAKALTIM.CO-Sejak tahun 2020 Pempek Pinkyta mulai diproduksi secara sederhana. Hanya dari rumah yang berlokasi di Jalan Padat Karya Kilometer 7 RT 51 No 96, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara, Pempek Pinkyta dikenal banyak orang melalui digitalisasi.
Dengan memanfaatkan digitalisasi, Adelia Rohani pemilik Pempek Pinkyta berhasil melebarkan usaha Pempek Pinkyta ditengah pandemi Covid 19. Yang mana saat itu, banyak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Balikpapan gulung tikar.
“Berdiri usaha sejak tahun 2020 Ini memang produk hasil pandemi covid 19, sebelumnya usaha kerupuk cumi-cumi. Saat covid 19 banyak toko oleh-oleh yang tutup. Jadi saya coba cari usaha rumahan, muncullah empek-empek ini,” ujarnya pada hari Jumat, 22 Mei 2026.
Melalui digitalisasi, ia mengenalkan produk usaha Pempek Pinkyta dengan harga terjangkau mulai dari pempek adaan dengan harga jual per kilogram sebesar Rp 70 ribu. Kemudian pempek lenjer per kilogram sebesar Rp 75 ribu dan kapal selam Rp 80 ribu per kilogramnya.
Usaha yang dimulai dari iseng berubah menjadi ladang penghasilan. Ia bersama suami memasarkan secara sederhana dengan memposting produk yang diolah sendiri melalui whatsapp maupun facebook.
Platform seperti Instagram, TikTok, GoFood, dan GrabFood menjadi kanal dalam menjangkau konsumen. Dengan konsistensi mengunggah konten produk, foto menarik, serta respons cepat terhadap pelanggan, sehingga usaha rumahan ini mampu berkembang pesat.
“Jadi awalnya cuma posting-posting biasa gitu di WA, kok responnya cepet. Terus coba deh di Facebook gitu kok makin cepat. Ya udah akhirnya ditekunin malah berjalan sampai sekarang,” ungkapnya wanita berhijab dengan penuh semangat.
Lanjut Adelia menjelaskan jika awal produksi hanya beberapa bungkus saja. Namun, saat ini produksi hingga mencapai 20-40 kilogram dalam dua hari. Bahkan, pada momentum tertentu seperti dibulan ramadan, penjualan hingga mencapai 5 ton dalam satu bulan. “Dimomen tertentu penjualan empek-empek lebih dari 20-40 kilogram. Dibulan ramadan kemarin sampai 5 ton sebulan,” katanya.
Tak hanya pemasaran produk secara digitalisasi, pembayaran pun kerap dilakukan secara digitalisasi dengan menggunakan Qris. “90 persen pembayaran dilakukan secara digital. Rata-rata sehari 8 kali transaksi digital yang masuk ke rekeningnya dengan nominal yang berbeda. Minimal satu kali transaksi Rp 140 ribu,” ungkapnya.
Transaksi digital memudahkan, lebih cepat dan praktis. Apalagi di zaman era teknologi saat ini, pelaku usaha harus bisa memanfaatkan digitalisasi, agar bisa berkembang usahanya, meskipun hanya usaha rumahan.
“Jadi usaha saya ini lebih dominan dengan menggunakan sistem digitalisasi. Kalau saya sendiri digitalisasi itu berpengaruh banget, karena kan memang saya jualannya di rumah. Saya tidak buka toko dan saya bisa mencapai penjualan hingga 5 ton itu kan karena digital. Enggak mungkin kalau enggak digital, orang tahu dari mana. Saya di rumah saja, enggak pasang spanduk dipinggir jalan atau apa gitu. Betul-betul secara digital 90% dan 10% non digital, paling tetangga sekitar ataupun teman-teman,” terangnya.
Selama menerapkan digitalisasi, ia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam beradaptasi dengan teknologi. Karena prosesnya cukup sederhana, meski tetap membutuhkan kemauan untuk terus belajar mengikuti perkembangan tren digital yang ada saat ini. “Saya tinggal posting produk di media sosial, meskipun memang kita harus bisa mengikuti teknologi yang cepat berubah,” ucapnya.
Digitalisasi juga memberikan fleksibilitas dalam operasional usaha. Tanpa harus membuka toko fisik, ia tetap bisa melayani pesanan saat berada di rumah. “Keuntungannya banyak sekali. Kita bisa jualan dari rumah, bahkan sambil istirahat. Tidak harus duduk menunggu pembeli yang datang,” tambahnya.
Saat ini pemasaran produk sudah merabah di samarinda berkat pemanfaatan digitalisasi yang digunakan. Meskipun, ia mempunyai impian untuk memasarkan produknya ke pulau jawa. Namun, ia masih memikirkan cara untuk bisa menjaga kualitas produk jika menjangkau ke luar daerah.
“Kalau ke luar kaltim seperti jakarta, jawa pengiriman saja bisa mencapai dua hari. Saya khawatir kualitas produknya jadi kurang bagus karena terlalu lama saat pengiriman,” sebut Adelia.
Ia pun ingin mengembangkan produk usaha dengan inovasi-inovasi baru.
“Inovasi yang ingin dikembangkan otak-otak dan makanan frozen lainnya. Sudah ada pemikiran ke sana,” ujarnya.
Tak dipungkiri, perjalanan usaha pempek ini semakin berkembang setelah bergabung sebagai binaan Bank Indonesia sejak tahun 2022. Ia mendapatkan banyak pelatihan dari Bank Indonesia Balikpapan mulai dari manajemen usaha pemasaran digital hingga pengemasan produk yang diberikan dalam pelatihan tersebut, tentunya ini semakin menguatkan pondasi bisnisnya terutama di dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Hal ini tentu sangat baik dan penting bagi para pelaku UMKM dalam meningkatkan kapasitas dan daya saing produknya. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bisa meningkatkan kualitas usahanya. Mengingat, para pelaku UMKM khususnya di Kota Balikpapan semakin berkembang.
“Awal mulanya saya menang lomba dan kemudian saya diajak untuk bisa bergabung di dalam binaan Bank Indonesia. Ini Tentunya menjadi kesempatan baik bagi saya untuk bisa meningkatkan kualitas produk yang dihasilkannya secara gratis,” sebutnya.
Usaha rumahan yang digeluti ini tak disangka sudah menikmati hasil yang tak terduga, cuan yang dihasilkan bisa membuat dirinya berangkat ibadah umroh. “Alhamdulillah, hasil penjualan usaha saya sebulan rata-rata mencapai Rp 20 juta. Berbeda lagi jika memasuki momentum tertentu seperti lebaran, natal. Pendapatan bisa berlipat dari biasanya,” ucapnya.
Meskipun demikian, ia tidak jumawah dengan apa yang telah diraih. Justru memotivasi para pelaku usaha khususnya di Kota Balikpapan, agar terus belajar dan berkembang dengan memanfaatkan digitalisasi yang ada.
Pasalnya, di tengah tantangan global dan perubahan perilaku konsumen digitalisasi bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan bagi UMKM seperti Pempek Pinkyta. Langkah berani ini justru menjadi kunci utama untuk mempertahankan dan mengembangkan produk yang dihasilkan.
Apalagi usaha ini tidak membutuhkan modal banyak, hanya dengan menggunakan peralatan memasak yang digunakan sehari-hari seperti panci dan kompor sudah bisa menghasilkan cuan. “Modalnya dari pemasukan penjualan itu diputar-putar hingga bisa sampai sekarang punya mesin giling,” katanya.
Menariknya lagi, dalam keseharian mengolah produk empek-empek hanya dikerjakan dirinya bersama suami. Tanpa ada karyawan. Terkecuali menerima pesanan hingga capai ribuan kilogram baru memberdayakan tetangga, untuk bisa membantu mengemas produk usahanya.
“Jadi saya tidak memiliki karyawan. Saya kerjakan bersama suami. Kalau pesanan kita capai dalam jumlah besar baru minta perbantukan tetangga sekitar. Itung-itung kita bisa membantu perekonomian mereka,” ungkapnya.
Selain menghasilkan pendapatan ekonomi, ia juga bisa mengedukasi warga sekitar untuk bisa berani berkarya dengan membuka usaha sesuai dengan bakat yang dimilikinya secara sederhana di rumah.
Diketahui bahwa, UMKM menjadi pilar penting dalam perekonomian di Indonesia. Terbukti dimasa pandemi covid 19, UMKM tetap bertahan menompang perekonomian, sehingga pemerintah terus mendorong UMKM semakin maju dan berkembang dengan digitalisasi.
Semangat Inovasi yang dimilikinya dan memanfaatkan teknologi yang ada, Adelia membuktikan bahwa dari dapur rumah bisa menghasilkan sebuah usaha yang dapat menembus pasar luas, bahkan bisa menghasilkan produksi hingga 5 ton yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Diakhir kata, ia pun berharap kepada pemerintah agar bisa memberikan dukungan lebih kepada para pelaku UMKM khususnya dalam bentuk bantuan peralatan. Sebelumnya, ia pernah menerima bantuan berupa freezer dari Dinas Perikanan yang sangat membantu dalam operasional usahanya. “Mungkin bantuan seperti itu bisa didapat lagi oleh para pelaku UMKM,” harapnya.
Seperti diketahui bahwa Pemerintah Kota Balikpapan dalam hal ini Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan terus mendukung pemberdayaan UMKM Balikpapan, salah satunya dengan menghadirkan inovasi sistem pembayaran digital. Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi.
Menurutnya, langkah ini untuk memudahkan transaksi agar semakin cepat, mudah, murah, aman, dan andal karena cukup dengan handphone pembayaran langsung diproses. Melalui inovasi ini memperkuat upaya Bank Indonesia Balikpapan mendorong UMKM untuk naik kelas melalui digitalisasi.(*)
Comments are closed.