BERITAKALTIM.CO – Kalimantan Timur mencatatkan capaian investasi sebesar Rp 71,8 triliun pada tahun 2023, meningkat 113 persen dari tahun sebelumnya. Capaian ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah investasi di provinsi ini.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalimantan Timur, Puguh Harjanto, mengatakan bahwa capaian investasi ini melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 64,5 triliun. Ia menambahkan bahwa investasi ini didominasi oleh sektor pertambangan, migas, dan sawit, yang merupakan sektor unggulan di Kalimantan Timur.
“Kita bersyukur bahwa capaian investasi kita sangat positif, meskipun di tengah pandemi Covid-19. Ini menunjukkan bahwa Kalimantan Timur masih menjadi destinasi investasi yang menarik bagi para investor, baik dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Puguh Harjanto pada saat jumpa pers, pada Jumat (16/2/2024).
Puguh menjelaskan bahwa dari total investasi Rp 71,8 triliun, sebesar Rp 58,3 triliun berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan sebesar Rp 13,5 triliun berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA). Dengan demikian, Kalimantan Timur menempati peringkat keempat nasional untuk PMDN dan peringkat kesepuluh nasional untuk PMA.
“Salah satu capaian yang membanggakan adalah realisasi investasi batubara yang mencapai 130,5 persen dari target. Ini menunjukkan bahwa sektor batubara masih memiliki potensi yang besar di Kalimantan Timur, terutama untuk ekspor,” katanya
Untuk tahun 2024, Pak Budi mengatakan bahwa pihaknya akan terus memaksimalkan capaian investasi dengan meningkatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik di tingkat regional maupun internasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa ada empat wilayah prioritas untuk pengembangan kemitraan usaha besar dengan usaha kecil, yaitu Kutai Kartanegara, Pasir, PPU, Samarinda, dan Balikpapan.
“Kita sudah melakukan mapping dan sounding untuk menentukan proyek-proyek yang bisa dikerjasamakan antara usaha besar dan usaha kecil. Kita juga sudah menyiapkan MOU dan mekanisme pemindahan teknologi. Kita berharap di tahun ini bisa lebih maksimal lagi dalam mengembangkan kemitraan usaha,” ucapnya
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pihaknya sedang berupaya untuk mempertahankan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) yang terancam dicabut karena belum ada realisasi investasi di sana. Ia mengatakan bahwa salah satu langkah yang dilakukan adalah mencari mitra untuk mengelola KEK tersebut.
“Kita juga sedang melakukan kajian terkait dengan infrastruktur penunjang investasi di KEK MBTK, seperti jalur gas, listrik, air bersih, dan IPAL. Kita berharap bisa menyelesaikan kajian ini sebelum Juni 2024, yang merupakan deadline untuk mempertahankan status KEK MBTK,” tuturnya
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa Kaltim terus memperkuat kerja sama dengan Provinsi Anhui, China, di tiga sektor utama, yaitu perakitan mobil listrik, konsensilika, dan pengembangan crude palm oil (CPO). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan investasi dan perekonomian daerah.
Ia mengatakan bahwa kerja sama dengan Anhui sudah berjalan sejak 2017 dan telah menghasilkan beberapa proyek strategis, seperti pembangunan pabrik assembling atau perakitan mobil listrik di Kawasan Industri Bontang Lestari. Pabrik ini ditargetkan dapat memproduksi 100.000 unit mobil listrik per tahun dan menyerap 2.000 tenaga kerja.
“Kerja sama dengan Anhui ini tidak terbatas pada investasi, tapi juga sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kami berharap ini bisa berjalan maksimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat Kaltim,” ungkapnya
Selain perakitan mobil listrik, ia juga menyebutkan bahwa ada dua sektor lain yang menjadi fokus kerja sama dengan Anhui, yaitu konsensilika dan CPO. Konsensilika adalah bahan baku untuk pembuatan kaca, keramik, dan semen, yang berasal dari pasir kuarsa. CPO adalah minyak sawit mentah yang merupakan komoditas ekspor utama Kaltim.
“Kami sedang mengembangkan kawasan konsensilika di Kutai Kartanegara, yang memiliki potensi cadangan pasir kuarsa sebesar 1,2 miliar ton. Kami juga sedang meningkatkan kapasitas produksi dan pengolahan CPO di beberapa kabupaten, seperti Pasir, PPU, Samarinda, dan Balikpapan. Kami berharap kerja sama dengan Anhui bisa membantu kami dalam hal teknologi, pemasaran, dan pembiayaan,” katanya
Puguh menambahkan bahwa pihaknya juga terus berupaya untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara lain, seperti Australia, terutama di sektor peternakan. Ia mengatakan bahwa Kaltim memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri peternakan, terutama sapi, namun masih menghadapi kendala dalam hal pembibitan, penggemukan, dan pemasaran.
“Kami baru saja melakukan pertemuan dengan salah satu tim dari Australia untuk membahas kemungkinan kerja sama di sektor peternakan. Kami masih mematangkan konsep kerja sama ini, namun kami sudah memiliki visi untuk mengembangkan breeding atau pembibitan sapi di Kaltim, karena ini merupakan faktor kunci untuk meningkatkan produksi dan kualitas daging sapi,” pungkasnya. #
Reporter: Sandi | Editor: Wong